AmoR











jadi.jpg

RAPOR CINTA…

 

ANNIVERSARY = WAKTUNYA EVALUASI HUBUNGAN!

 

Selama ini, bisa jadi kita dan si dia engga pernah lupa merayakan tanggal jadian alias anniversary. Entah itu merayakan setiap bulan sekali, enam bulan sekali atau mungkin setahun sekali.

Tapi biasanya nich, yang dilakukan pas anniversary enggak jauh – jaun dari candlelight dinner, jalan – jalan keluar kota, atau saling tukar kado mahal, padahal kalau kita mau, tanggal anniversary bisa jadi moment untuk mengevaluasi hubungan.

Tentu saja point yang di evaluasi tergantung lamanya kita pacaran. Kalau baru jadian sebulan, jelas enggak bisa disamakan dengan pasangan yang sudah pacaran setahun,kan?

 

30 HARI JATUH CINTA

Katanya nich, 30 hari pertama pacaran adalah masanya “bulan madu”. saat ini,hubungan kita dan si dia sedang manis – manisnya. Dalam sehari saja, kita bisa telpon – telponan lebih dari tiga kali. Enggak masalah, deh, pulsa cepat habis, yang penting bisa dengar suaranya.

Sehari saja enggak melihat wajah gantengnya….ugh,kayak berminggu – minggu nggak bertemu. Begitu juga dengan si dia, sikapnya maniss banget, tanpa diminta, si dia si dia selalu siap sedia antar jemput kita ke kampus atau ke kantor.

Belum lagi hujan kata – kata mesra via sms. Mulai dari nanya sudah makan atau belum, ngingetin supaya hati – hati di jalan, dan ngucapin selamat tidur setiap malam – full perhatian dech!!!

Evaluasi

Jika hubungan baru berjalan sebulan, enggak usah mikir yang berat – berat seputar hubungan kita dan si dia dech. Evaluasi hubungan kita dari hal ringan saja. Misalnya bagaimana cara si dia memperlakukan kita. Ingat – ingat, selama sebulan, kita lebih banyak sedih atau senang saat bersama dia?

Kalau baru sebulan kita sudah sering di bikin kesal bahkan menangis, kayaknya kita harus berfikir ulang,tuh, untuk melanjutkan hubungan. Di awal pacaran yang normalnya masih serba manis saja kita makan hati melulu, gimana nanti?

SEUMUR JAGUNG

Di minggu – minggu pertama pacaran, kita da si dia memang suka sok jaim. Dimana dan kapan saja, kita selalu berusaha menampilkan yang terbaik dari diri masing-masing. Tapi setelah tiga bulan, biasanya keluar dech, ‘belang’ dan sifat aslinya.

Banyak fakta baru terungkap. Misalnya, nich, dibalik penampilannya yang selalu rapi, kita baru tahu kalau ternyata si dia jarang mandi (ihhhh!). dilain kesempatan si dia yang tadinya mengaku bukan perokok, belakangan ketahuan perokok berat.

Kecewa? Bisa jadi. Ternyata si dia enggak sesempurna yang kita bayangkan. Meski merasa tertipu, kita juga nggak mau, kan, buru-buru mengucap kata putus. Selain hubungan masih seumur jagung, persoalannya sepele.

Evaluasi!

Seiring berjalannya waktu, seharusnya kita nggak ragu untuk menampilkan diri kita sesungguhnya. Jadi nggak perlu senewen klo sifat asli si dia mendadak bermunculan. Asal masih bisa ditolerir, kita malah harus bersyukur Karena artinya si dia mulai merasa nyaman untuk membuka diri.

Lagipula terungkapnya sifat asli, kan, berlaku bagi kedua belah pihak. Bisa jadi, si dia yang mengira kita jago masak pun sebenarnya kecewa begitu nyicipin racikan kita yang rasanya amburadul.

SEMESTERAN NICH

Memasuki usia 6 bulan, kita dan si dia sudah mulai kenal luar dalam. Mulai dari makanan favorit, ciri-ciri si dia saat bt, bahkan jadwal aktivitas hariannya pun kita tahu, asiknya neeeh kita gak perlu jaim lagi. Baik kita maupun si dia sudah bisa menerima keadaan masing-masing. Sekilas keliatannya memang gak ada yang salah dengan kedekatan ini. Tapi beda dengan pdkt dimana segala hal tentang dirinya selalu terlihat menarik, setelah 6 bulan sih, keadaan bisa berbalik 180 derajat! Apa lagi kita juga sudah gak ragu lagi buat ngomel-ngomel ke si dia.

Contohnya, dulu mungkin kita selalu maklum setiap si dia telat jemput. Kita berfikir, sudah bagus si dia mo menyempatkan menjemput di sela-sela kesibukannya tapi sekarang, baru telat 5 menit saja kita langsung meneror ponsel.

Evaluasi!

Mentang-mentang masa jaim sudah lewat, bukan berartiboleh lepas kontrol, dong. Jika kita terlalu sering ngambek gara-gara hal gak penting, lama-lama si dia pasti merasa gerah tuch.

Padahal dalam 6 bulan, teman kita maupun si dia kan bisa terus bertambah. Bisa jadi, dikampus ato dikantor si dia punya teman baru yang gk kalah ok dari kita. Jika bersama kita mulai merasa gk nyaman, si dia bisa pindah kelain hati.

Supaya gk sampe kejadian, coba dech lebih berkompromi. Klo pacar memang melakukan kesalahan, gk usah mendramatisir keadaan, kayak kita gk pernah salah aja…

HORE SETAHUN!

Congratz! Jika kita dan si dia bisa bertahan hingga 12 bulan, boleh berbangga hati. Hari gini, gk banyak pasangan yang tahan pacaran lama. Itu artinya, kita berdua termasuk tipe yang sanggup menyingkirkan ego masing-masing. Buktinya kita dan si dia bisa bertahan cukup lama.

Satu hal yang perlu diingat, semakin lama kita berhubungan dengan seseorang, semakin jauh pula kita masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Wajarnya sich, kita pun sudah kenal dengan orang-orang terdekatnya, seperti keluarga. Kalau si dia memang berniat serius menjalin hubungan dengan kita, mengenalkan kita ke keluarganya tentu bukanlah masalah besar, dong.

Evaluasi!

Ada beragam alasan kenapa seseorang gk mau mengenalkan pacarnya ke keluarga. Kalimat, “ takut gak enak, seandainya putus ditengah” paling sering jadi alasan. Padahal, nih, setahun bukan waktu sebentar.

Meski belum ada rencana menikan, biasanya hubungan kita sudah bukan ditahap main-main lagi. Kecuali camer tinggal jauh di kota lain, kita boleh kok, mengajukan protes bila belum juga dikenalkan. Kalau si dia keukeuh menolak, mesti curiga, tuh! Jangan-jangan, si dia punya rahasia yang ditutupi, atau justru gk serius pacaran dengan kita.

Begitu pula sebaliknya, sebaiknya kita mulai mengajak si dia untuk bertemu dengan orang-orang rumah. Jangan Cuma nongol saat menjemput kita kencan, sesekali ngedate dirumah saja biar ortu juga kenal si dia.

TAHUN KEDUA, KETIGA…

Pacaran hingga lewat satu tahun, kita dan si dia tentu telah melewati banyak hal bersama. Seiring bertambahnya usia, biasanya semakin berkembang perlu kapasitas dan kebutuhan kita.

Misalnya, nih, dua tahun lalu pas masih kuliah, kita sudah cukup puas bisa ngobrol panjang lebar dengan pacar soal band yang lagi naik daun. Tapi sekarang, setelah masuk dunia kerja, mungkin kita lebih tertarik ngomongin politik. Kalau si dia bisa mengimbangi, tentu nggak masalh. Namun jika nggak?

Itu baru soal obrolan. Belum lagi hal lainnya, seperti visi dan misi di masa depan. Kalau sampai nggak nyambung, baru, deh, kita berpikir bahwa si dia mungkin bukan yang terbaik bagi kita. Masalahnya, mau putus, kok, rasanya berat. Abis sudah lumayan lama, sich…

Evaluasi!

Hanya ada dua alas an mengapa sepasang kekasih bisa awet pacaran hingga lebih dari satu tahun. Pertama, karena memang cocok. Kedua, sebenarnya nggak cocok tapi memaksakkan bertahan karena sulit keluar dari comfort zone. Kalau kita termasuk kelompok pertama, bolehlah berlega hati. Lain halnya bila kita berada dikelompok kedua, pasti bimbang banget. Di satu sisi, kita sudah terbiasa dengan kehadirannya selama dua tahun terakhir. Rasanya nggak sanggup, deh, harus balik ke dunia jomblo dan memulai pdkt dengan orang baru lagi.

Namun disisi lain, kita gk bisa terus-terusan membohongi diri sendiri. Satu-satunya yang bisa menjawab kebimbangan ini adalah jujur pada diri sendiri. Kira-kira apa, sih, motivasi kita mempertahankan hubungan? Pertimbangkan baik buruknya bukan hanya untuk satu dua minggu ke depan, tapi lebih ke jangka panjang. Cewek-cewek bisa memutuskan yang terbaik, dong!

Dikutip dari cita cinta edisi No.07/VIII



anha says:

gitu yha……



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: